Header Logo
Indonesian
Koleksi
Menunggu respon server .....
Said Tuhulele : Pejuang Kaum Dhuafa dan Marjinal
Penulis : Muhammad Erdiansyah CA., SIP. Tanggal Publikasi : 22 March 2022

Mereka butuh uluran tangan-tangan tulus yang memiliki energi ekstra untuk memperjuangkan mereka.

 

Klinik Apung Said Tuhulele

Pada tahun 2017 LazisMu (Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah) merilis Klinik Apung Said Tuhuleley yang berfungsi untuk melayani masyarakat yang belum terjangkau oleh layanan kesehatan primer, khususnya di Kepulauan Maluku.

Klinik Apung Said Tuhuleley diresmikan Presiden Joko Widodo saat pembukaan Tanwir Muhammadiyah di Dermaga Islamic Center Ambon, Kota Ambon. Coorporate Relationship Director LazisMu, Edi Surya menjelaskan bahwa dibuatnya Klinik Apung, selain untuk mengobati yang sakit juga untuk meningkatkan pemahaman kesehatan masyarakat di pulau terpencil. "Agar mereka lebih memahami tentang hidup sehat," ujarnya.

Terbentuknya Klinik Apung Said Tuhulele berlatar dari perjuangan Said Tuhuleley yang dikenal sebagai aktivis pejuang mustad'afin dan tokoh filantropi Muhammadiyah. Menurut Amien, fokus dan perhatian Said Tuhuleley adalah bagaimana menolong kaum dhuafa dan mustadhafin agar bisa hidup wajar, meninggalkan kehidupan yang masih dalam tahapan sub-human alias belum cukup manusiawi.

Sementara itu, Bambang Cipto menggambarkan Said Tuhuleley sebagai sosok yang berhasil membuat terobosan yang sangat berharga dan patut untuk diteladani. Menurut pandangan Buya Syafii Maarif, Said Tuhuleley adalah seorang pembela sejati rakyat miskin dan pelopor pilar ketiga gerakan Muhammadiyah.

Mengenal Said Tuhulele

Said Tuhuleley lahir pada 22 Mei 1953 di Desa Kulur, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Ia berasal dari keluarga santri yang taat. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah.

Mengutip buku Jejak Langkah Said Tuhuleley, pada 1970-an Said Tuhuleley sudah memegang ijazah sarjana muda. Kemudian beliau memutuskan merantau ke pulau Jawa bersama teman-temannya untuk melanjutkan pendidikannya di IKIP Negeri Yogyakarta yang sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pada 1982, Said lulus dari IKIP Negeri Yogyakarta danmulai menjalani karier sebagai guru honorer SMA swasta di Kota Solo. Namun, pada akhir kuartal pelajaran Said mengundurkan diri. 

Setelah itu, Said kemudian aktif dalam menjalankan aktivitas-aktivitas dakwahnya di berbagai lini. Pada puncak kesuksesannya, Said mendapatkan anugerah gelar Doktor Honoris Causa (HC) dalam bidang pemberdayaan masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 19 Desember 2014.

Said Tuhuleley kemudian diajak Amien Rais ke UMY untuk ikut turut serta memperkuat Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M UMY). Beliau menjabat sebagai komandan Divisi Penerbitan di LP3M UMY dan menjadi dosen tetap Fakultas Teknik (FT UMY). Said Tuhulele juga sempat menjabat sebagai Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik. Beberapa tahun kemudian beliau dipindah menjadi dosen tetap Fakultas Agama Islam (FAI UMY).

Said Tuhuleley pernah mendapat kesempatan berkiprah di PP Muhammadiyah selama 20 tahun pada posisi operator kegiatan, manajer dan konsultan. Pada 2005, akhirnya beliau dipercaya menjadi ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) dalam dua periode (2005-2010 dan 2015).

Said Tuhuleley melakukan kunjungan ke beberapa daerah di wilayah Indonesia Timur dalam rangka tugas pemberdayaan umat. Said Tuhulele sempat mengalaman penurunan kondisi kesehatan dan hingga akhirnya beliau wafat pada 9 Juni 2015 saat berusia 62 tahun. Said Tuhulele dimakamkan di lokasi pemakaman tokoh-tokoh Muhammadiyah, tepatnya di permakaman kampung Karangkajen, Mergangsan, Yogyakarta. 

Sewaktu meninggalnya Said Tuhuleley, Prof Din Syamsuddin mengatakan "kepergian Said adalah kehilangan bagi Persyarikatan Muhammadiyah dan bangsa Indonesia. Said merupakan seorang mujahid dakwah yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dakwah bagi pemberdayaan dan pemajuan masyarakat". 

Warisan Said Tuhulele

Warga Muhammadiyah sedang menikmati hasil jerih payahnya dalam pemberdayaan masyarakat lewat MPM yang dipimpinnya. "Saya berharap akan muncul Said Tuhuleley-Said Tuhuleley baru yang akan meneruskan jihad pencerahan almarhum,"tulis Din.

Sebagai intelektual, banyak buku yang ditulis Said Tuhuleley, di antaranya Masa Depan Kemanusiaan (2003), Pendidikan: Kemerdekaan Diri, dan Hak Si Miskin untuk Bersekolah (2005), Permasalahan abad XXI: sebuah agenda: kumpulan karangan (1993), dan buku berjudul Profile Anggota Muhammadiyah.

Sebuah kalimat yang sering Said Tuhulele diberbagai kesempatan yaitu Selama rakyat masih menderita, tidak ada kata istirahat. Kalimat tersebut dapat menjadi pengingat generasi muda. Ditengah kehidupan yang berkecukupan masih ada masyarakat yang belum mencapai kata "cukup" bahkan "mapan" dalam menjalani kehidupannya. Mereka butuh uluran tangan-tangan tulus yang memiliki energi lebih untuk memperjuangkan mereka.

sumber:
https://ihram.republika.co.id/berita/qx7tg9313/said-tuhuleley-mujahid-dakwah-kaum-dhuafa-i
https://ihram.republika.co.id/berita/qx7tpb313/said-tuhuleley-mujahid-dakwah-kaum-dhuafa-iihabis
https://rumahsakitislam.com/details/87-demo/news/247-klinik-apung-said-tuhuleley-di-lepas-muhammadiyah
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/02/25/olxdko377-klinik-apung-muhammadiyah-jalankan-misi-kemanusiaan-perdana

Information