Header Logo
Indonesian
Koleksi
Menunggu respon server .....
Dinamika Perjalanan Bahasa Indonesia
Penulis : Aidilla Qurotianti Tanggal Publikasi : 17 January 2022

Bahasa Indonesia sangat lekat dalam kehidupan kita dan menjadi Bahasa pemersatu saat kita berkomunikasi dengan teman, saudara, atau orang lain yang memiliki latar suku yang berbeda. Menurut Harimurti Kridalaksana kelahiran Bahasa Indonesia tidak terpisahkan dari kebangkitan nasional. Para perintak kemerdekaan tidak hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan dari penjajah, melainkan juga bagaimana mengisi kemerdekaan dan menjadikan bangsa yang merdeka mempunyai kebudayaan yang bisa dibanggakan (Kridalaksana, 2010). Akan tetapi kapan Bahasa Indonesia lahir? Dan bagaimana alur Bahasa Indonesia terbentuk? Mari kita ulas.

Embrio Bahasa Indonesia

Cikal bakal terciptanya Bahasa Indonesia yaitu berasal dari Bahasa melayu. Bahasa melayu merupakan akar rumpun Bahasa Austronesia yang dalam penyebarannya meliputi area polinesia yaitu asia tenggara dan pasifik. Bahasa ini biasa disebut sebagai Bahasa perhubungan atau lingua franca.

Bahasa melayu sendiri terbagi menjadi 2 yaitu melayu pasar dan melayu tinggi.  Melayu pasar merupakan bahasa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk bahasa ini mudah dimengerti dan ekspresif  Melayu tinggi merupakan bentuk bahasa resmi yang digunakan oleh kalangan keluarga kerjaaan di sekitar sumatera, jawa, dan semenanjung malaya.

Mengkutip dari kompas(Media, 2019) Bahasa melayu tumbuh dan berkembang sebagai bahasa perhubungan dan perdagangan. Tidak hanya di wilayah Kepulauan Nusantara tapi hampir di seluruh Asia Tenggara dan bahasa ini telah digunakan sejak abad ke-7.

Mengutip dari narabahasa(Yudhistira, 2021) Sejarah membuktikan bahwa penggunaan bahasa Melayu dapat kroscek melalui beberapa penemuan prasasti. Prasasti yang ditemukan di Kedukan Bukit (Palembang, 683 M), Talang Tuwo (Palembang, 684 M), Kota Kapur (Bangka Barat, 686 M), dan Karang Brahi (Jambi, 688 M) tertulis dengan huruf Pranagari dengan bahasa Melayu Kuno. Selain digunakan dalam transaksi perdagangan, bahasa Melayu pun diandalkan sebagai bahasa kebudayaan, khususnya pada zaman Kerajaan Sriwijaya, yakni sebagai bahasa utama dalam buku pelajaran agama Buddha.

Kerajaan-kerajaan di Indonesia juga memakai bahasa melayu. Dikutip dari detik.com (detikcom, n.d.) Para raja nusantara pada masa lampau hanya menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa diplomasi, baik dalam perhubungan diplomatik dengan sesama mereka (penguasa nusantara) maupun dengan penguasa dan atau pelaku bisnis bangsa asing yang berhubungan dengan mereka.

Sikap yang diterapkan secara konsisten di dalam kebijakan kerajaan-kerajaan nusantara tersebut menjulangkan Bahasa Melayu di kalangan masyarakat dunia pada masa itu, termasuk di kalangan para pemimpin bangsa asing yang berhubungan dengan para penguasa nusantara

Evolusi bahasa melayu ke bahasa indonesia

Selepas masa Sriwijaya, catatan tertulis tentang bahasa Melayu baru muncul semenjak masa Kesultanan Malaka (abad ke-15). Laporan Portugis dari abad ke-16 menyebutkan bahwa perlunya penguasaan bahasa Melayu untuk melakukan transaksi perdagangan. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Portugis di Malaka, dan munculnya berbagai kesultanan di pesisir Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, serta selatan Filipina, dokumen-dokumen yang tertulis di kertas dalam bahasa Melayu mulai ditemukan. Surat-menyurat antar pemimpin kerajaan pada abad ke-16 juga diketahui telah menggunakan bahasa Melayu. Karena bukan penutur asli bahasa Melayu, mereka menggunakan bahasa Melayu yang "disederhanakan" dan mengalami percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah menggunakan huruf Arab (lebih dikenal sebagai huruf Jawi) atau juga menggunakan huruf setempat, seperti hanacaraka.

Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern dimulai ketika Raja Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga, secara sistematis menyusun kamus ekabahasa bahasa Melayu berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama pada pertengahan abad ke-19.

Pada tahun 1849 pemerintahan hindia belanda kala itu ingin mendirikan sekolah bagi orang pribumi. Namun pada saat itu muncul sebuah persoalan tentang bahasa apa yang akan digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan. Lalu, terjadilah perselisihan pendapat di antara para pemimpin Belanda kala itu. Tentulah sebagian besar dari mereka berharap bahwa bahasa yang digunakan untuk pendidikan di Indonesia adalah bahasa Belanda. Namun Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen menyadari bahwa bahasa melayu telah digunakan sebagai bahasa perhubungan di hampir seluruh nusantara. Akhirnya ditetapkanlah bahasa melayu sebagai bahasa pengantar di seluruh sekolah. Hasil dari keputusan itulah yang menjadikan bahasa melayu dapat meluas ke berbagai tempat di wilayah hindia belanda. Bahasa Melayu Modern memiliki ciri khas yaitu huruf menggunakan alfabet Latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa Melayu tersebut sudah dilakukan sejak awal abad ke-20 dan hal tersebut membuat bahasa ini menjadi semakin populer.

Pada tanggal 14 september 1908 mulai didirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) oleh Adviseur voor Inlandsch Zaken atau yang kini kita kenal sebagai Balai Pustaka. Lembaga tersebut mulai diresmikan pada tahun 1949 dan berfungsi sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra. Hal tersebut membuat bahasa melayu semakin populer dan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya yaitu bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya sebagai “bahasa Melayu van Ophuijsen". Van Ophuijsen adalah orang yang menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk penggunaan di Hindia Belanda pada tahun 1901. Ia juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, "bahasa Melayu van Ophuijsen" ini kemudian dikenal luas di kalangan orang-orang pribumi dan mulai dianggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia.

Tanggal 28 Agustus 1916 pada Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag Belanda, R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dalam makalahnya mengusulkan bahwa bahasa Melayu yang harus dijadikan sebagai bahasa persatuan sesuai dengan peran dan perkembangan pesat bahasa Melayu kala itu.

Ketika Dewan Rakyat (Volkstraad) dilantik pada tahun 1918, orang-orang di volkstraad mendesak ratu kerajaan belanda agar bahasa persatuan kembali mengemuka. Pada tanggal 25 juni 1918 berdasarkan Ketetapan Raja Belanda, para anggota Dewan diberi kebebasan menggunakan bahasa Melayu. Badan penerbit, organisasi sosial dan politik juga dapat menggunakan bahasa Melayu(Yanti et al., 2016).

Perkembangan bahasa melayu di wilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa indonesia. Oleh karena itulah para pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa melayu menjadi bahasa indonesia yang sekaligus sebagai bahasa persatuan untuk seluruh bangsa indonesia. Dalam, perkembangannya bahasa indonesia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke 20.

Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan dengan nama bahasa indonesia.

Lahirnya bahasa indonesia

Dari sini kita akan bertanya sejak kapan kata sebutkan bahasa indonesia mulai ada? Ini bermula dari M. Tabrani, beliau bekerja di harian Hindia Baru mulai Juli 1925. Menurut harian kompas (Media, 2020) Ia menerbitkan tulisan yang berjudul “Kasihan” pada 10 Januari 1926 sebagai gagasan awal untuk menggunakan nama "Bahasa Indonesia". Gagasan M. Tabrani tersebut merujuk pada realita keberagaman masyarakat pada masa itu yang masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing. Sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi pemuda saat itu dengan mengusung nama masing-masing daerah. Seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, dan lainnya.

M. Tabrani menolak konsep usul resolusi Mohammad Yamin pada Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 pada butir ketiga yang menyebutkan “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu”. M. Tabrani bersikukuh, bahasa persatuan bukan bahasa Melayu tetapi bahasa Indonesia. Bila belum ada, harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama tersebut. Akibat perbedaan pendapat antara Yamin dan Tabrani, maka keputusan ditunda sampai Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928. Penerbitan bahasa Indonesia tersebut bertujuan agar pergerakan persatuan anak Indonesia dapat bertambah kuat dan cepat. Geliat perjuangan penggunaan bahasa Indonesia sangat gigih. Bermula dari Volksraad: Dewan Rakyat yang turut mendukung Kongres Bahasa Indonesia (KBI) Pertama di Solo pada 1938. Pada KBI Pertama tersebut, M. Tabrani menyarankan penyebaran Bahasa Indonesia perlu dilakukan untuk melembagakan nama bahasa ini. Sanusi Pane juga mengusulkan Institut Bahasa Indonesia. Pada tanggal 18 agustus 1945 Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai Bahasa nasional bersamaan dengan dirilisnya UUD 45 yang masuk dalam pasal 36.

Bentuk bahasa indonesia

Dikutip dari goodnewsfromindonesia(Belia, n.d.) bahasa Indonesia terbentuk dari beraneka ragam bahasa asing. Pada tahun 1999, Pusat Bahasa menerbitkan buku “Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia’ dan menyatakan bahwa terdapat 10 donor bahasa Indonesia, yakni Belanda, Inggris, Arab, Sanskerta-Jawa Kuna, China, Portugis, Tamil, Parsi/Persia, dan Hindi.

Seiring berjalannya waktu bahasa indonesia mengalami evolusi dalam penggunaan ejaan.

  • Dimulai pada ditahun 1901-1947 menggunakan ejaan Ophuijsen
  • Lalu ejaan republik atau ejaan soewandi ditahun 1947-1956
  • Ejaan pembaharuan ditahun 1956-1961
  • Ejaan melindo di tahun 1961-1967
  • Ejaan baru/lembaga bahasa dan kesustraan (LBK) di tahun 1967-1972
  • EYD (ejaan bahasa indonesia) pada tahun 1972-2015
  • Dan yang terbaru adalah EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dari tahun 2015-sekarang

Demikian kisah perjalanan bahasa indonesia yang kita gunakan sehari-hari. Dari cerita tersebut dapat kita ambil makna bahwa berdirinya bahasa indonesia tidak luput dari proses perjalanan sebuah bangsa dan kita perlu berterima kasih kepada para pendahulu yang berjuang keras sehingga kita harus tetap semangat untuk melestarikan bahasa indonesia agar bisa menjadi bahasa internasional kedepannya. Amiin.

Kisah dinamika perjalanan Bahasa Indonesia selengkapnya bisa dilihat melalui channel Youtube Perpustakaan UMY melalui link berikut https://www.youtube.com/watch?v=FfM8Sq0DxwE 

 

DAFTAR PUSTAKA

Belia, A. P. (n.d.). Inilah Asal-Usul Bahasa Indonesia. Retrieved 12 October 2021, from https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/11/09/inilah-asal-usul-bahasa-indonesia

detikcom, T. (n.d.). Mengungkap Keistimewaan Bahasa Melayu, Dari Kolonial Belanda hingga Merdeka. detiknews. Retrieved 15 October 2021, from https://news.detik.com/berita/d-4764290/mengungkap-keistimewaan-bahasa-melayu-dari-kolonial-belanda-hingga-merdeka

Kridalaksana, H. (2010). Masa-masa awal bahasa Indonesia. Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Media, K. C. (2019, December 25). Bahasa Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. KOMPAS.com. https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/25/150000269/bahasa-indonesia-sejarah-dan-perkembangannya

Media, K. C. (2020, January 26). Siapa Penemu Bahasa Indonesia? KOMPAS.com. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/26/070000769/siapa-penemu-bahasa-indonesia

Yanti, P. G., Zabadi, F., & Rahman, F. (2016). Bahasa Indonesia: Konsep dasar dan penerapan. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yudhistira. (2021, January 24). Bahasa Melayu: Asal-Usul Bahasa Indonesia | Narabahasa. https://narabahasa.id/linguistik-interdisipliner/evolusi-bahasa/bahasa-melayu-asal-usul-bahasa-indonesia

 

Penulis :

Muh. Erdiansyah C A, SIP 

(Pustakawan UMY)

Information